Jumat, 17 Juli 2009

Peradaban

Kawan saya dikantor, berpendiikan tinggi. Sarjana strata satu. Tetapi untuk hal-hal kecil, jika diperbandingkan dengan tingkat pendidikannya yang lumayan bagus yang diraihnya, sepertinya, gelar itu menjadi sia-sia diraihnya.

Kebiasaannya ngupil didepan layar komputer, atau batuk tanpa menutupi mulutnya, dan membiarkan mulutnya mengangah, atau menyeruput ingus didalam saluran hidungnya dengan leluasa, atau bersin dengan sekuat tenaga, serta membiarkan suara keras keluar dari bersinnya itu, tanpa berpikir bahwa ada orang lain disekitarnya, sungguh sebuah 'tindakan kecil' yang menjatuhkan attitude-nya sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang yang sudah disebut Bapak, Ayah, Papa, dari seoarang anak kecil itu, bisa melakukan perilaku-perilaku yang kurang sopan, tidak mengenal manner, jorok, didepan orang lain, ditempat umum lagi.

Dalam hati saya cuma berpikir: "Manusia seperti ini dari peradaban apa ya?? Apa memang dari kecil gak pernah dididik manner?? Atau memang gak punya budaya malu, sopan santun?? Nggak mungkin kalau gak kenal manner?? Lha wong sarjana dan punya pergaulan kota???....atau mungkin memang berasal dari peradaban yang hilang???.(gong)

Orang Goblok

SOMAD berkeras bahwa pengeboman yang terjadi di JW Marritt Hotel dan Ritz Carlton Jakarta, adalah perbuatan orang goblok. "Bayangkan saja, bagaimana kedukaan keluarga korban akibat kejadian itu?? bayangkan kalau itu terjadi pada keluarga pengebom sendiri?? Pasti menyedihkan. Karena itu aku berpendapat bahwa pelaku pengeoman itu cuma orang goblok," tegas SOMAD.

Menurut SOMAD, dengan dalih apapun, dan sebagai dampak atas persoalan apapun, jika itu merenggut nyawa orang-orang yang tidak tahu duduk persoalan sebenarnya, tentunya perbuatan itu adalah perbuatan tidak bertanggung jawab, tidak bermoral dan bermain seolah-olah dirinya yang paling berkuasa karena dapat menentukan nyawa sesorang akan dicabut.

"Tapi kita khan tidak bisa dengan mudah mencap pengeboman itu diakukan oleh orang bodoh. Paling tidak ada alasan yang melatarbelakangi niatnya untuk melakukan pengeboman. Bisa jadi menurut keyakinannya dengan mengebom atau membunuh orang lain adalah keinginan yang dibenarkan oleh sebuah keyakinan itu sendiri," sela ICANG ingin mengendurkan suasana.

Bukannya makin kendur, SOMAD juatru makin menggebu-gebu menyampaikan bahwa dengan alasan apapun tetap saja itu tindakan bodoh yang dilakukan oleh orang bodoh juga. "Apa nggak ada jalan lain selain, meledakkan bom??, merenggut nyawa manusia lain?? Menurutku tetap saja kebodohan," serga SOMAD.

Lalu suasana agak tenang, ketika SOMAD dan ICANG sama-sama menundukkan kepalanya. Terpekur dalam kesunyian, mengingat peristiwa menyedihkan Jumat 17 Juli 2009. Ketika sebuah ledakan keras menghancurkan sebagian JW Marriott Hotel Jakarta dan Ritz carlton dikompleks Mega Kuningan, Jakarta, serta menelan korban meninggal mereka yang berada disekitar kawasan ledakan tersebut.

"Kenapa orang-orang bodoh berpikiran cupet itu ada dibumi pertiwi ini??" gumam SOMAD sembari membenahi lensa kamerannya.(gong)

Kamis, 16 Juli 2009

Lebih Penting

Seorang kawan saya, yang juga jurnalis sebuah koran harian, setiap pagi selalu mengirim sms, dan isinya selalu sama: Hari ini agendanya apa?. Kecuali Sabtu dan Minggu, kawan itu dengan setia selalu mengirimi saya sms yang sama selama hampir 3 tahun belakangan ini.

Dan dengan setia, saya juga membalas sms itu, dengan menuliskan beberapa agenda kegiatan yang saya tahu. Harapan saya ketika itu, mudah-mudahan kawan saya itu selalu mendapat berita sekaligus foto yang bagus untuk medianya.

Seiring berjalannya waktu, belakangan saya baru tahu ternyata sms itu juga dikirimkan kepada sejumlah rekan jurnalis yang lainnya. Dan balasannya memang sejumlah agenda kegiatan.

Asal tahu, yang namanya liputan selalu diartikan dua hal, yang saling berhubungan dan sepertinya sulit dipisahkan. Ada yang beranggapan setiap kali liputan sama artinya dengan sejumlah rupiah yang diperoleh dari liputan itu. Tetapi banyak juga rekan sesama jurnalis tidak sependapat dengan cara berpikir seperti itu.

"Dia mau datang kalau liputan itu bernilai rupiah. Ada embel-embelnya. Kalau nggak, meskipun penting buat media, tetap saja dia milih yang ada embel-embelnya itu," kata seorang kawan lain kepada saya.

Sampai pagi tadi, kawan saya itu masih tetap mengirimkan sms yang sama: Hari ini agendanya apa? Dan saya masih tetap setia membalasnya dengan agenda-agenda liputan hari itu.
Ternyata...
Ada yang 'lebih penting' dari sekedar sebuah liputan dalam tugas seorang jurnalis....(gong)

Rabu, 15 Juli 2009

Diam-diam....

JAPLUN dengan tegas-tegas, menganggap dirinya adalah seorang jurnalis yang hebat. Karena itu, apa yang dia sampaikan kepada atasannya, seringkali tak ubahnya tita yang tidak bisa ditolak si atasan.

Entah karena si atasan yang kelewat bodoh, atau mungkin si atasan memang nggak ngerti apa-apa, sehingga apapun yang disampaikan JAPLUN tak ubahnya masukan yang bisa membuat karirnya terancam atau bahkan yang paling konyol menjadikan jabatannya bisa-bisa melayang jika tidak dituruti.

Padahal, diam-diam JAPLUN sendiri menyusun kekuatan untuk menggulingkan sang atasan, dalam rangka memperbaiki dan menaikkan statusnya, yang hanya sekedar jurnalis biasa. Beberapa petinggi lainnya dihubungi JAPLUN. Lalu dengan lobi-lobinya yang handal, dan keterampilan khususnya dalam hal menjilat, para petinggi itu akhirnya punya sense yang sama tentang atasan JAPLUN. Harus segera diganti....

Tapi apakah si atasan diam saja melihat akrobat JAPLUN??? Tentu saja tidak. Si atasan mulai mengandalkan senioritasnya di perusahaan untuk memperkuat posisi dan menjalin kemitraan lebih dekat dengan sesama petinggi ditingkatannya. Mengunjungi kerumah-rumah para petinggi dengan dalih silaturahmi. Atau mengirimkan makanan sebagai taktik bertanya-tanya tentang kebisaannya memasak.

Pendek kata, si atasan diam-diam juga melakukan pergerakan untuk mengamankan posisinya. "Aku khan lebih senior. Aku berhak mempertahankan posisi yang aku punya sekarang. Tak peduli aku mampu atau tidak, yang pasti aku sudah berjasa pada perusahaan ini," gumam si atasan.

Sementara JAPLUN dengan langkah pongahnya, dalam hati bergumam: "Kalau aku bisa menggeser kedudukannya, aku akan membuktikan bahwa aku lebih mampu. Selama ini aku sudah membuktikan bahwa aku mampu. Aku harus menduduki posisi itu," ucap JAPLUN dalam hati.

Yang lucu, saat si atasan libur atau tidak masuk kantor, JAPLUN datang pagi-pagi ke kantor, kemudian entah mengerjakan apa, dan saat matahari persis diatas kepala, JAPLUN buru-buru pergi meninggalkan kantor dan tidak kembali lagi.
"Bung!! Ayo kerja, itu Pak Gubernur sudah keluar. Motret!!! Motret!!! Kok ngelamun," tegus seorang teman, membuyarkan mimpiku.(gong)