Kamis, 04 Juni 2009

Cari Aman, Cari Muka, Cari-cari.....

Ternyata ...pada kondisi tertentu, cari muka jauh lebih penting dan mendapat penghargaan daripada cari yang lainnya. Kalau bos sedang marah besar lantaran omzet nggak naik-naik, lalu ada saja cara untuk menyalah-nyalahkan orang lain, sebagai penyebab malapetaka itu.

"Saya sudah mati-matian membuat terobosan dan menampilkan informasi yang segar. Tapi kawan-kawan lain tidak ikut mensuport itu. Kawan-kawan lebih memilih membuat informasi-informasi sesuai keinginan masing-masing. Bagaimana dengan loyalitas dan perjuangan menjadi media terbaik??? Bisa-nisa cuma saya yang punya keinginan untuk maju???" ujar PANDIR.

Walhasil, upaya cari muka yang dilakukan PANDIR berbuntut, rotasi diantara sesama pekerja media tersebut. Buntutnya, si PANDIR ada posisi seperti yang sesuai diinginkannya.

Tapi giliran mendapaat tugas untuk mencoba melakukan pengembangan media tempatnya bekerja, si PANDIR kebingungan bukan alang kepalang. Berbagai situs dioprek, berbagai portal disurfing. Mulai dari situs lokal sampai portal berbahasa Rusia.

"Kebutuhan untuk mengembangkan sebuah bentuk organisasi bukan cuma berdasarkan panduan atau literatur, tetapi juga harus dibarengi dengan kecerdasan dan leadership yang sudah teruji sekian tahun. Nggak bisa instan saja, ada keberanian untuk melakukan inovasi, perubahan, dan bukan menikmati kebahagiaan alih-alih jasa yang sudah diberikan bagi perusahaan. Artinya, bukan karena lama bekerja pada perusahaan, tetapi lebih pada kemampuan dan kapabilitas membaca situasi serta merebut masa depan," ujar seorang pakar komunikasi.

Lalu apa yang harus kita lakukan??? Cari muka, cari aman, atau cuma cari-cari saja???.(gong)

Sabtu, 14 Maret 2009

Cari Aman

Kalau butuhnya cuma aman bekerja dan tidak berpikir bagaimana membuat progres-progres kedepan, rasanya pekerjaan itu akhirnya hanya menjadi sekedar ritual harian. Setelah bangun tidur, bekerja, sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Tetapi, jika setiap waktu mencoba untuk membuat progres-progres, entah untuk diri sendiri atau untuk pekerjaan yang berhubungan dengan karya, rasanya pekerjaan itu menjadi lebih menggairahkan. Karena ada sesuatu yang baru, ada sesuatu yang terus menggelitik.

Maka dari itu, melakukan evaluasi bagi diri sendiri atau untuk kepentingan pekerjaan menjadi sesuatu yang patut dilakukan. Kalau tidak,....pekerjaan itu tak ubahnya sekedar kotoran yang terpaksa harus dilakukan setiap pagi, setelah bangun tidur.(gong)

Senin, 05 Januari 2009

2,7 juta Upah Jurnalis Surabaya, Layakkah??

Belum adanya standarisasi pengupahan jurnalis di Surabaya, mendorong Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya melakukan survey untuk menentukan upah layak jurnalis yang bekerja di media terbitan dan berkantor pusat di Surabaya. Penentuan gaji wartawan selama ini berdasarkan "nilai rata-rata upah jurnalis yang berlaku di pasaran", yang rata rata masih jauh dari kelayakan. Bahkan, masih ada jurnalis yang tidak digaji sama sekali oleh media tempatnya bekerja. Meskipun AJI Surabaya juga melihat ada manajemen media yang menjadikan jenjang pendidikan jurnalis sebagai patokan.


Tidak layaknya upah jurnalis ini selalu menjadi alasan untuk melanggengkan praktek terima suap "amplop", meskipun dalam kode etik jurnalistik (AJI)jelas-jelas melarang praktek tersebut. Berdasarkan survey ini, AJI yang selalu menentang praktek suap mendesak media menggaji wartawannnya dengan cara layak.

Tim survey AJI Surabaya mewawancarai puluhan jurnalis di Surabaya untuk mengetahui kebutuhan mereka lalu mencocokkan harga kebutuhan tersebut di pasaran. Cara inilah yang dijadikan dasar untuk menentukan upah layak wartawan. Karena, upah jurnalis tidak bisa dilepaskan dari kondisi harga kebutuhan pokok di pasaran.

Survey pasar yang dilakukan menyentuh harga semua produk yang banyak dikonsumsi jurnalis. Khususnya, bahan-bahan pokok yang dijual di pasar modern (swalayan), lantaran tingkat inflasinya dianggap paling stabil dibandingkan dengan pasar tradisional.

Dalam melakukan survey ini, AJI Surabaya menggunakan metode survey tertutup kepada 30 jurnalis di Surabaya sebagai responden. Jurnalis yang disurvey sebagai responden, merupakan karyawan tetap. Seperti yang diuraikan dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, status karyawan tetap adalah status yang paling kuat kedudukannya. Karyawan tetap juga memiliki sejumlah hak. Nilai/harga kebutuhan para junalis diambil nilai tengah atau harga yang paling sering muncul dari responden.

Survey ini tentu saja tidak selalu berjalan mulus seperti yang diharapkan. Dalam melakukan survey, idealnya harus diketahui terlebih dahulu berapa jumlah jurnalis yang bekerja pada media tersebut. Lalu, mencari data tentang jumlah wartawan yang sudah diangkat sebagai karyawan tetap. Dari jumlah jurnalis berstatus karyawan tetap itu, didapat jumlah sampling untuk survey. Sayangnya, kenyataan tak seindah mimpi. Berdalih rahasia perusahaan, manajemen media enggan memberikan data mengenai jumlah dan status karyawannya.

Kendala lain yang juga terjadi adalah, ketakutan jurnalis sebagai responden dalam survey. Beberapa diantara mereka mengaku khawatir mendapat sanksi, jika perusahaannya tahu ia menjadi responden dalam survey ini. Salah seorang jurnalis bahkan menarik dan membatalkan hasil survey. Berbedanya sistem pengupahan tiap media juga menjadi kendala yang cukup signifikan dalam survey ini. Jika sebuah media hanya memberi gaji pokok tanpa potongan dan dianggap sebagai take home pay. Maka perusahaan lain memberikan lebih. Selain gaji pokok, uang transport, uang makan, tunjagan prestasi, dan lain-lain.

Tapi show must goon! Data-data yang didapat AJI Surabaya mendapatkan nilai rentang upah pokok yang diterima jurnalis berdasarkan jenis media. Rentang upah ini idealnya berdasarkan urutan media yang mengupah jurnalisnya paling tinggi hingga yang paling rendah.

Cetak Rp.700.000,- s/d Rp 1.650.000,-
Televisi Rp.300.000,- s/d Rp 1.200.000,-
Radio Rp.730.000,- s/d Rp 1.500.000,-
Online Rp.700.000,- s/d Rp 1.250.000,-

Dan, berdasarkan survey terhadap jurnalis sebagai responden dan survey harga barang di pasar, maka Upah Layak Jurnalis Surabaya sebesar Rp 2,7 juta (rincian terlampir). Dan patokan upah tersebut adalah bagi para wartawan yang baru bergabung di media.(ngutip AJI/gong)

Rabu, 10 Desember 2008

Naluri



Seorang kawan datang menemui saya sambil sedikit bersungut-sungut wajahnya. "Padahal aku mau menolong seorang Ibu yang kebetulan memang terjepit diantara kerumunan ratusan orang itu. Aku juga butuh gambar bagus. Tapi naluri seorang manusia membuat aku mengurungkan niatan memotret, waktu aku melihat Ibu itu minta tolong. Tapi kawan-kawan malah marah, menganggap aku menghalangi mereka mendapatkan foto yang bagus. Kesal aku," ujar kawan saya itu.

Setelah saya coba untuk menenangkannya terlebih dulu dengan segelas es teh, lalu saya baru ngeh, ternyata kawan saya itu, bercerita tentang sikap sesama kawan fotografer yang sedang mengambil momen antrian penerima daging qurban di kompleks Pengadilan Negeri Surabaya. Memang tersiar kabar peristiwa antrian tersebut sempat menimbulkan ricuh. Dengan beberapa orang yang teinjak-injak.

"Apa saya salah kalau menolong Ibu itu. Bayangkan kalau Ibu itu adalah Ibu-ibu mereka sendiri. Tapi sudahlah. Saya sendiri juga gak sempat mendapat momen itu. Biar saja kawan-kawan marah sama saya. Saya juga gak dapat apa-apa kok," sambung kawan saya dengan nada pasrah.

Dilema memang. Mau ambil momen desak-desakan yang mengakibatkan seorang Ibu terinjak-injak, atau menolong terlebih dulu. Dilema ini memang menarik untuk dijadikan bahan diskusi atau sharing dengan kawan-kawan sesama jurnalis. Dalam kondisi tertentu, mana yang harus didahulukan? menolong? atau membuat foto?

"Ya sudah gak usah emosi. Yang penting kamu sudah melakukan sesuai dengan nalurimu. Kawan-kawan yang lain itu juga gak salah karena mereka juga ingin mendapatkan momen yang emosional itu. Tapi masak iya sih mereka marah-marah lantaran kamu menolong Ibu yang terjepit, yang menderita??," tanya saya.

Sebelum kawan saya itu menjawab, buru-buru saya melanjutkan jawaban saya sendiri: "Repot juga ya," ......(gong)

Foto: EDY suarasurabaya.net

Nulis Lagi

Setelah sekian bulan....kurang lebih akhir September, saya nulis di blog ini....kemudian tidak menulis. Soal HENDRO kawan saya yang akhirnya out dari perusahaan tempat kami bekerja, memang menyita perhatian banyak orang. Selain pihak manajemen sendiri, juga muncul simpati dari banyak orang.

Nggak tahu harus nulis apa....tapi keinginan untuk terus menulis selalu tertunda oleh kesibukan sehari-hari. Motret lah, reportase, atau apa saja sehingga membuat saya berhenti menulis.

Kawan saya, BUDI SUGIHARTO mengajak membuat komunitas jurnalis on line. Sebuah tempat untuk saling berbagi, apa saja...informasi, sharing atau persoalan-persoalan yang mungkin dialami kawan-kawan jurnalis di Kota Surabaya.

Mungkin inilah tempat baru untuk berinteraktif zonder tatap muka dan melihat raut wajah yang boleh jadi memang sungguh membosankan. Karena seharian biasanya sudah saling bertemu karena sama-sama dilapangan untuk melakukan reportase. Kalau harus melihat wajah yang sama kembali, rasanya kok eneg juga.

Dengan menyediakan sebuah alamat blog, BUDI SUGIHARTO yang 'juragannya detiksurabaya.com' itu mengajak smeua jurnalis di kota Surabaya, utamanya kawan-kawan jurnalis online untuk saling berinteraktif dalam Komunitas Jurnalis On Line Surabaya, disingkat KJOS.

Jelas ini langkah baru yang memberikan kesegaran bagi jurnalis-jurnalis kota ini untuk saling berbagi. Semoga....(tok)