Jumat, 29 Agustus 2008

SARAH AZHARI

Sepertinya, kawan-kawan dan rekan-rekan ditempat saya bekerja, mulai disibukkan dengan bakal datangnya bulan suci Ramadhan. Ada yang usul menggelar pengajian atau baca ayat-ayat Al Quran sambil menunggu datangnya saat berbuka puasa. Ada juga yang usul menggelar aktivitas sosial yang ditujukan kepada orang lain.

"Menyantuni dan mengajak anak-anak yatim piatu berbuka puasa, memberikan sedikit kebahagiaan kepada mereka, rasanya bagus juga kita lakukan. Bisa patungan, atau silahkan gimana mekanismenya. Yang penting, kita melakukan sesuatu," ujar seorang kawan saya.

Saya yang tidak pernah mengerti persis, dan tak bisa menjelaskan secara tepat makna dari puasa itu, kadang cuma berandai-andai: Kalau saja bulan puasa atau Ramadhan itu terjadi terus menerus, sepertinya dimana-mana orang akan berlomba-lomba berbuat kebajikan.

Kalangan artis, selebritis (yang saya baca dan dengar dari saluran infotainment, dan situs asoyyy...) berlomba pergi umroh ke Arab. Atau berencana menggelar buka puasa bersama kaum dhuafa, dan menyiapkan dana luar biasa. Dan sederet kegiatan lainnya, dalam rangka menumpuk amalan di bulan puasa. Padahal, dihari-hari biasa, beberapa selebritis itu, kerap tertangkap basah sedang menikmati narkoba untuk memompa stamina.

Sedangkan artis-artis perempuan, yang biasa tampil mengumbar sebagian paha, dan belahan dada, rame-rame menutup aurat. "Kasihan SARAH AZHARI. Tahun ini, disaat menjelang bulan ramadhan, dia sibuk sekali. Terpaksa harus keluar masuk butik dan mall, serta toko-toko, dalam rangka mencari kerudung dan pasmina. Toko-toko yang pernah dia masuki ternyata tidak menyediakan yang bisa menutup keseluruhan tubuh bagian atasnya," ujar kawan saya yang jadi jurnalis saluran infotainment di Jakarta.

Baiklah kawan...apakah SARAH AZHARI sudah menemukan kerudung atau pasmina yang mampu menutup tubuh bagian atasnya, ...saya juga masih menunggu kabar dari kawan saya di Jakarta.

Menyambut Ramadhan 1429 H, saya sampaikan:
.....pinggan perak sungguh gemilang
antik cawan dari pangeran
syaban lekang ramadhan menjelang
patik mohon maaf kepada tuan dan puan.....

(jikalau tuan dan puan tiada berpuasa, patik pun tetap mohon maaf)

Sepurane Cuk!!!(gong) 

Kamis, 28 Agustus 2008

Hidup Lontong Mie!!!


Ketika saya kecil, paling takut dengan badut atau model-model boneka besar seukuran orang dewasa. Entah kenapa. Tapi kemudian jadi berbalik lebih 360 derajat, justru kemudian saya selalu terobsesi untuk menghajar bentuk-bentuk 'badut' seperti itu.

Sekarangpun, saya selalu merasa ingin memukul dan menghajar 'badut-badut' itu. Badut-badut itu hanya bisa menyenangkan orang-orang yang membayarnya. Menipu dan merongrong dalam rangka meraih sebuah pujian.

Badut sialan!!!

Lalu sejenak saya berpikir, barangkali memang cuma itu yang bisa dilakukan 'badut-badut' itu. Dan memang itulah yang ada dibenaknya. Membuat senang para ndoro tuan, memuja-muja sang tuan, dan yang paling konyol.... yang paling konyol.... sekali lagi yang paling konyol: adalah menawarkan lontong mie.... (Mas IWAN dan Pak BAMBANG boleh puas tertawa...Hidup lontong mie!!! Hidup lontong mie!!!).(gong) 

Selasa, 26 Agustus 2008

Njajan Pentol

Kawan saya, fotografer. Beberapa hari lalu, oleh redaktur diminta membuat foto untuk ilustrasi sebuah naskah berita tentang jajanan anak-anak usia SD. Soalnya reporter yang ditugaskan membuat tulisan tentang itu, mencoba menelusuri jajanan anak-anak yang kabarnya sudah terkontaminasi berbagai zat-zat tidak bagus untuk tubuh.

"Aku motret kekerumunan anak-anak yang sedang membeli pentol. Tiba-tiba sipenjual bertanya, kenapa dirinya dan anak-anak yang sedang menikmati jajanan itu dipotret. Aku terangkan, ini untuk ilustrasi reportase. Sipenjual pentol marah tak mau dipotret," cerita kawan saya yang fotografer itu.

Akhir kisah, kawan saya itu sudah berhasil memotret setelah terlebih dulu harus meyakinkan sipenjual jajanan bahwa foto yang bakal tampil dikoran tempatnya bekerja itu tidak akan menurunkan omset jajanan pentol-nya.

"Tapi yang bikin aku bingung Cak, justru pihak sekolah menelepon kekantor dan tidak terima foto siswanya yang sedang asik menikmati pentol itu ditampilkan. Katanya sih, bisa menurunkan kredibilitas. Bingung aku Cak," sambung kawan saya, sambil memegangi rambut keritingnya.

Meski tidak sampai dipecat atau diskorsing, kawan saya itu sempat diajak diskusi oleh redaktur foto, dan redaktur kota. "Aku masih bingung Cak," tambah kawan saya itu. Apa karena tidak minta izin dulu, kesekolah karna memotret siswanya? Padahal siswa yang dipotret itu, sedang berada diluar lingkungan sekolah? Kredibilitas apa yang bakal turun? Apakah karena performance asli anak-anak yang njajan pentol itu bisa menurunkan kredibilitas?

Saya sendiri juga bingung...apa sih korelasi antara performance dan hasil karya? Apa kalau performance-nya bagus, rapi, sopan, selalu menghasilkan karya yang bagus? Menghasilkan produk yang sesuai keinginan perusahaan? Apakah dengan performance yang tidak umum, kemudian sebuah kredibilitas itu menjadi turun? Kok rasanya enggak ada korelasi sama sekali...barangkali cuma orang-orang yang memang gak punya kapasitas serta kapabilitas yang masih harus memikirkan dan memperhitungkan itu.

Rasanya orisinalitas dan keberanian mengekspresikan ide, justru kebutuhan masa depan yang harus dipertahankan dan dimiliki para pekerja profesional...(gong)

Senin, 25 Agustus 2008

Kok Bisa Ya....

Kok bisa ya. Ditempat saya bekerja, ada beberapa orang yang tidak jelas 'kegunaannya'. Maksudnya, tidak jlas apa pekerjaannya atau apa yang dihasilkannya, kalau itu diukur dari produktivitas. Pagi datang, membuka laptop, sambil menyeruput secangkir kopi atau teh panas, dimeja panjang belakang kantor.

Agak siang, ketika saya kembali dari luar kantor untuk reportase atau memotret, orang itu saya temui dan lihat masih berada dimeja panjang belakang kantor. Kali ini, orang itu, entah apa yang diperbincangkan dengan kawan-kawan lainnya, terlihat tertawa terbehek-behek sambil memamerkan giginya yang kurang menarik.

Sore, saat saya sudah kecapekan dan membuang energi dibeberapa tempat diluar kantor, orang itu masih berada dimeja panjang belakang kantor, tetapi dengan pemandangan yang berbeda. Saat sore menjelang malam, orang itu ngobrol dengan beberapa petinggi perusahaan tempat saya bekerja.

Kalau kawan-kawan didivisi marketing, selalu dibebani target dan analisa pasar yang ketat, itu memang sebagian dari pekerjaan mereka. Tapi, orang itu punya jabatan tinggi diperusahaan tempat saya bekerja. Harusnya juga punya tanggung jawab serta target sasaran yang jelas, bahkan mungkin harus mampu membuat planning-planning bermutu.

"Dia itu bekasnya informan Polisi" kata seorang kawan. Waduuuhhh...benarkah? Dalam hati, saya cuma bisa berucap: Kok bisa ya, bekas informan Polisi, jadi karyawan perusahaan media tempat saya bekerja? Jabatannya sekarang General Manager.

Kalau saja saya bisa berhadap-hadapan langsung dan berperkara dengan orang itu....sayangnya saya tidak bisa....keburu muntah ketika melihat wajahnya....atau jadi mules dan pengen buang air besar saat melihat wajahnya....kayak jamban!!!! (Kamu harus tertawa JO!!!).(gong)

Minggu, 24 Agustus 2008

Ketemu Batunya...

Surat Panggilan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Surabaya dalam kasus perburuhan antara Chief Editor Majalah Mossaik, HENDRO D. LAKSONO vs Suara Surabaya Media diterima HENDRO D. LAKSONO, Selasa (19/08/08) ini. Dalam surat itu, Disnaker Surabaya meminta pihak yang berselisih, HENDRO dan Pimpinan Suara Surabaya, SOETOJO SOEKOMIHARJO untuk datang ke kantor Disnaker Surabaya Selasa (26/08/08) ini.

Uniknya, surat Disnaker bernomor 560 itu menuliskan "Sdr. Hendro D. Laksono, dkk", sebagai pihak ke-2 yang berselisih. "Ini yang membingungkan saya, mengapa Disnaker menilai saya dan kawan-kawan (diwakili dengan singkatan "dkk" yang tertulis dala surat itu), apakah ada kawan lain yang akan bernasib seperti saya," kata HENDRO. Lebih jauh HENDRO mengatakan, sebagai bagian dari upaya menghormati proses hukum, dia akan menghadiri undangan Disnaker tersebut.

Sementara itu, ATHOILLAH dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya mengatakan, bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, pihaknya akan terus mengawal proses kasus perburuhan ini. Karena hal ini sekaligus menjadi upaya mengawal kasus perburuhan dengan adil sesuai hukum. "Kalau bukan buruh yang mengawal kasus ini, lalu siapa lagi, untuk itu kita harus mengikutinya, dan berharap ada keadilan di dalamnya," kata ATHOILLAH.

Melalui surat itu Disnaker Surabaya menawarkan kepada dua pihak yang bersengketa untuk memilih dua solusi, Konsiliator atau Arbiter. Sesuai dengan pasal 4 ayat (3) Undang-undang No.2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI). "Apa pilihan Hendro, tetap kami dukung," kata ATHOILLAH.

Sejak kasus sengketa perburuhan HENDRO D. LAKSONO dan Suara Surabaya Media mencuat, AJI Surabaya mendapatkan berbagai dukungan dari dalam dan luar negeri, melalui email. Sebagian besar dari email itu meminta Hendro D. Laksono untuk menjaga energi, karena kasus perburuhan selalu berhadapan dengan berbagai kendala. "Yang paling parah adalah tidak adanya mainset dukungan terhadap buruh," tulis salah satu email itu.

Sebelumnya, Suara Surabaya Media juga mengirim surat ke Hendro perihal perpanjangan masa skorsing. Dalam surat yang ditandatangani oleh Direktur Umum Administrasi ROMMY FEBRIANSYAH itu, HENDRO yang seharusnya mulai bekerja kembali pada 19 Agustus 2008 ini, "dipaksa " untuk kembali menerima skorsing hingga ada proses penyelesaian mediasi dari Disnaker. "Apapun itu, Saya akan tetap menghormati rules of the game. Yang Saya khawatir, justru nasib teman-teman Saya yang sampai sekarang masih bekerja di sana (Suara Surabaya Media). Jangan sampai merasakan apa yang saya rasakan,.." kata HENDRO.(ngutip AJI Surabaya)